Postingan

Part 18: “Yang Diantar Sudah Sampai Mekkah, yang Mengantar Masih di Jalan”

Gambar
  Ucap syukur tiada henti kami panjatkan. Sebuah kebahagiaan besar ketika pak suami mendapat panggilan untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Mekkah adalah tempat yang selalu dirindukan setiap muslim dan kini benar-benar menjadi tujuan perjalanan beliau. Sebelum keberangkatan, tentu banyak persiapan yang harus dilakukan. Apalagi pak suami bertugas sebagai media center haji, yang berarti tidak hanya ibadah, tetapi juga menjalankan amanah penting di sana. Persiapan pun terasa lebih matang dan penuh pertimbangan. Rabu, 22 April 2026 Selama mempersiapkan segala persyaratan haji untuk pak suami, saya juga merasakan nikmat yang luar biasa. Alhamdulillah, kondisi bipolar saya tetap terkendali dan vertigo hanya kambuh satu kali, meskipun tubuh terasa sangat lelah. Di tengah semua kesibukan dan energi besar yang terkuras, Allah begitu baik, saya masih diberi kesehatan hingga saat ini. Emosi pun terasa lebih stabil dan terkendali. Sebelum mengantar pak suami ke Asrama Haji, saya dan ke...

Part 17: “Dari Disebut ‘Gila’ Menjadi ‘Istimewa’: Cerita Saya di Hari Bipolar Sedunia”

Gambar
  Tanggal 30 Maret selalu punya makna yang berbeda bagi saya. Hari ini adalah Hari Bipolar Sedunia (World Bipolar Day)  dan untuk pertama kalinya, saya benar-benar merasakannya bukan sekadar peringatan, tapi sebagai pelukan. Sebagai penyandang disabilitas mental dengan Gangguan Bipolar , perjalanan saya tidak selalu mudah. Ada hari-hari ketika saya merasa sangat kuat, penuh energi, bahkan seperti bisa melakukan apa saja. Tapi di hari lain, semuanya terasa runtuh, lelah yang tidak terlihat, sedih yang sulit dijelaskan, dan pikiran yang terasa begitu sempit. Saya pernah berada di fase manik, bahkan dengan gejala psikotik. Di saat itu, dunia terasa begitu cepat, pikiran melompat-lompat, dan realitas terasa kabur. Lalu di waktu lain, saya jatuh ke titik yang sangat rendah, di mana bangun dari tempat tidur saja terasa seperti perjuangan besar. Namun hari ini… berbeda. Hari ini, saya merasa tidak sendiri. Mengapa 30 Maret? Tanggal ini dipilih untuk memperingati hari lahi...

Part 16: “Dua Hari, Dua Kontrol, Dua Cerita”

Gambar
  Selasa, 24 Februari 2026 , saya kontrol ke RS Welas Asih di poli mata. Alhamdulillah, hasilnya baik. Minus dan silinder saya tidak bertambah, sehingga saya tidak perlu mengganti kacamata. Rasanya lega sekali. Meski begitu, dokter tetap menyarankan kontrol rutin enam bulan lagi, tepatnya pada Agustus 2026. Menjaga tentu lebih baik daripada mengobati. Poli mata Beberapa hari kemudian, tepatnya Selasa, 3 Maret 2026 , saya kembali kontrol, kali ini ke poli bedah mulut. Setelah melihat hasil rontgen, dokter memutuskan gigi bungsu saya langsung ditindak hari itu juga. Awalnya saya sempat khawatir harus menjalani operasi dan rawat inap, tetapi ternyata cukup dicabut saja. Alhamdulillah. Prosesnya cukup lama dan, jujur saja, agak menyeramkan. Gigi saya ternyata sangat kuat. Belum lagi suara bor yang membuat suasana semakin menegangkan. Saya memilih untuk tetap tenang, memejamkan mata, dan menarik napas perlahan sampai akhirnya gigi bungsu kiri saya berhasil diangkat. Poli Bedah Mulut...

Part (15): Episode Depresi pada Bipolar

Gambar
Minggu, 8 Februari 2026. Hari ketika dadaku terasa sempit, air mata jatuh tanpa izin, dan masa lalu kembali mengetuk—masa awal kambuh yang kukira telah jauh tertinggal setelah lebih dari sepuluh tahun bertahan dengan doa dan keyakinan. Di hari itu, keyakinan terasa rapuh. Bukan karena aku lemah, melainkan karena otakku sedang lelah. Dalam gangguan bipolar, ada hari-hari ketika sistem emosi seperti kehilangan remnya. Secara medis, ini terjadi saat zat kimia otak yang mengatur suasana hati tidak berada dalam keseimbangan dan stres besar menekan dari segala arah. Tekanan finansial yang berat—angka yang terasa mustahil—menjadi pemicu kuat yang membuat pikiran berlari ke tempat paling gelap. Bukan karena aku ingin mengakhiri hidup, tetapi karena aku ingin berhenti dari rasa sakit yang terasa tak tertahankan. Secara ilmiah, kondisi ini berkaitan dengan beberapa mekanisme utama di otak. Ketidakseimbangan neurotransmiter seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin memengaruhi kemampuan otak...

Part (14): Jumat Berkah di Tengah Manik dan Psikotik

Gambar
  Jumat, 6 Februari 2026 menjadi hari yang ingin saya simpan baik-baik dalam ingatan. Hari itu terasa seperti berkah kecil yang jatuh perlahan, tidak gaduh, tapi cukup untuk membuat saya bernapas sedikit lebih lega. Anak perempuan saya dinyatakan sembuh dari amandel . Tidak perlu kontrol ke dokter lagi. Mendengar kalimat sederhana itu, hati saya seperti diringankan. Sebagai orang tua, kesehatan anak adalah doa yang paling sering kita ucapkan, bahkan saat kita sendiri sedang tidak baik-baik saja. Di hari yang sama, kondisi saya juga menunjukkan perubahan. Dosis obat saya diturunkan menjadi setengah dari sebelumnya. untuk 30 hari Saya tahu, ini bukan berarti sembuh. Saya juga belum remisi. Saya masih berada dalam fase bipolar manik dengan gejala psikotik . Tapi dibandingkan bulan lalu—saat depresi menelan hampir seluruh tenaga dan harapan—hari ini saya masih bisa berdiri. Apa Itu Bipolar Manik dengan Gejala Psikotik? Bipolar bukan sekadar perubahan suasana hati biasa. P...

Part (13): Di Tengah Vertigo dan Luruhnya Harapan, Aku Belajar Bersyukur

Gambar
28 Januari 2026 menjadi salah satu hari yang kembali menguji fisik dan mentalku. Hari ini aku kontrol ke RSUD Welas Asih, ke poli saraf. Vertigo yang kualami sudah berada pada tahap yang benar-benar melemahkan. Mual hebat, muntah, tubuh tak lagi bisa diajak kompromi. Masyaallah… rasanya bukan sekadar pusing, tapi dunia seperti berputar tanpa jeda. Syukurnya, vertigo ini tidak disertai dengungan di telinga. Namun tetap saja, penglihatanku melemah total. Semua terasa kabur dan menakutkan. Aku sempat teringat betapa banyak informasi di internet tentang vertigo—jujur saja, membacanya kadang membuat dada berdegup lebih kencang. Banyak kemungkinan, banyak kekhawatiran. Dan mungkin, kondisi inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa pada hari Senin sebelumnya aku sampai pingsan. Yang membuat hati sedikit perih adalah ketika pihak Kemendiknas menyarankan agar penangananku dilakukan di puskesmas. Padahal, setelah berkonsultasi dengan dokter di Welas Asih, dr. Cik Elber, jelas disampaikan...

Part (12): NRG Terbit: Perjalanan Menuju Gelar Gr.

Gambar
  Hari ini saya membuka Facebook dan melihat pengumuman yang sudah lama ditunggu: NRG sudah terbit! Artinya, apa yang ditunggu guru-guru PPG sudah ada. Alhamdulillah, rasa syukur membuncah di dada saya. Perjalanan panjang ini akhirnya membuahkan hasil. Saya ingat betul di awal proses, saya hampir menyerah. Bipolar dan gangguan saraf saya kambuh—kondisi mental yang kadang membuat saya kehilangan mimpi, fisik yang melemah, dan ingatan yang sering retak. Ada hari-hari ketika saya bertanya-tanya apakah saya sanggup melanjutkan. Tapi Tuhan tidak pernah membiarkan saya sendiri. Salah satu malaikat yang Tuhan kirimkan adalah  Bu Kartini , seorang guru di SMA dengan wajah yang anggun dan hati yang keibuan. Namanya benar-benar sesuai dengan karakternya. Bu Kartini meyakinkan saya bahwa saya pasti bisa. "Kalau ada yang belum dipahami, tanya saja sama saya. Saya kan sudah duluan PPG," katanya dengan senyum hangat. Kata-kata sederhana itu menjadi penguat yang luar biasa bagi saya. ...

Part (11): Menunggu di Rumdin: Dari Kesabaran, Pingsan, hingga Kebijaksanaan

Gambar
Senin, 26 Januari 2026 Hari ini seharusnya menjadi hari penting bagi saya. Saya memiliki janji dengan Bapak Bupati Kabupaten Bandung, Drs. H. M. Dadang Supriatana, S.IP., M.Si. , pukul 13.00 WIB di Rumah Dinas (Rumdin). Alhamdulillah, sekitar pukul 12.30 WIB saya sudah tiba di Rumdin dan menunggu di area Satpol PP. Awalnya saya mendapat informasi bahwa akan ada kegiatan rapat koordinasi (RAKOR) , sehingga saya diminta menunggu. Belakangan saya mengetahui bahwa informasi mengenai RAKOR tepat pukul 13.00 WIB tersebut tidak sepenuhnya tepat , namun saat itu saya memilih tetap bersabar dan menunggu dengan tenang. Sekitar pukul 15.00 WIB , saya bertemu seseorang yang tanpa saya duga justru memicu emosi. Rasa kesal itu datang mendadak dan menusuk—nyesek di ulu hati. Padahal selama kurang lebih empat tahun terakhir , saya sedang berjuang mengurus perubahan nama yayasan TK yang saya dirikan. Proses panjang yang melelahkan, penuh dinamika, dan sering kali menguras tenaga serta perasaan. ...

Part (10): Ikhtiar Waras yang Tidak Selalu Nyaman

Gambar
 Catatan seorang ibu dalam proses pulih * Blog ini saya tulis bukan untuk mengeluh, melainkan untuk jujur. Tentang tubuh yang sedang belajar beradaptasi, tentang pikiran yang sedang belajar tenang, dan tentang seorang ibu yang sedang berikhtiar menjaga kewarasan agar tetap bisa hadir sepenuhnya bagi keluarganya. Jika suatu hari tulisan ini dibaca oleh dokter saya, semoga ia tahu: saya sungguh sedang berusaha. ** IKHTIAR Saya datang membawa cerita, bukan dakwaan. Saya duduk dan berbicara dengan harapan dipahami—bukan dicurigai. Namun di ruang praktik itu, kisah hidup saya dipotong-potong, disusun ulang, lalu disimpulkan dengan tergesa. Ayah saya seolah diletakkan di kursi pesakitan, padahal saya tak pernah meminta siapa pun untuk diadili. Saya hanya ingin luka saya dilihat apa adanya, bukan ditafsirkan dengan cepat dan sepihak. Yang lebih menyakitkan, di rumah pun saya sempat tidak dipercaya. Rasa sakit saya dianggap dibuat-buat. Hingga akhirnya penjelasan medis membuka ...

Part (9): Di Antara Dihakimi dan Dipeluk

Gambar
  Saya datang membawa cerita, bukan dakwaan. Saya duduk dan berbicara dengan harapan dipahami—bukan dicurigai. Namun di ruang praktik itu, kisah hidup saya dipotong-potong, disusun ulang, lalu disimpulkan dengan tergesa. Ayah saya seolah diletakkan di kursi pesakitan, padahal saya tak pernah meminta siapa pun untuk diadili. Saya hanya ingin luka saya dilihat apa adanya, bukan ditafsirkan dengan cepat dan sepihak. Yang lebih menyakitkan, di rumah pun saya sempat tidak dipercaya. Rasa sakit saya dianggap dibuat-buat. Hingga akhirnya penjelasan medis membuka mata, dan sebuah kata maaf datang. Terlambat—namun tulus. Rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru menghadirkan kepanikan. Di tengah keramaian, ketidakfokusan layanan, dan kebingungan yang tak sempat dijelaskan, saya dirujuk begitu saja—tanpa ditenangkan terlebih dahulu. Dari sana saya belajar: sistem bisa lalai, dan pasien sering kali harus memperjuangkan suaranya sendiri. Setahun kemudian, Jumat, 2 ...

Part (8): Rumah yang Belum Selesai dan Jiwa yang Terluka

Gambar
  "Aku tidak lemah—aku hanya kelelahan setelah terlalu lama bertahan."                                           Kehidupan rumah tangga tidak selalu berakhir dengan sempurna, meski telah diperjuangkan sepenuh hati. Namun, bagi kami, perjuangan itu terasa sangat layak—demi tiga buah hati tercinta yang menjadi alasan kami untuk tetap bertahan. Tahun 2024 menjadi salah satu bab paling berat dalam hidup kami. Sebuah kejadian pencokelan—upaya paksa untuk masuk ke rumah—mengguncang rasa aman kami. Rumah itu kami bangun sejak Desember 2020, dengan segala keterbatasan, dan sebagian belum selesai. Ketidaksempurnaan itulah yang rupanya mengundang niat jahat orang lain. Di tahun yang sama, dengan tiga anak yang harus kami lindungi dan penuhi kebutuhannya, suami saya bekerja sebagai wartawan. Penghasilannya jujur saja tidak besar. Menyelesaikan rumah terasa semakin berat. Pada titik itu...

Part (7): Ketika Pertemuan Sederhana Berujung Seumur Hidup

Gambar
  Puncak acara Harlah PMII pada 17 April berlangsung begitu meriah. Presiden Jokowi hadir membuka acara, dan seluruh kader PMII larut dalam suka cita yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Hari itu terasa penuh, padat, dan berisik—namun justru dari keramaian itulah cerita paling sunyi dalam hidupku bermula. Setelah acara selesai, orang-orang sibuk berbincang dengan sahabatnya masing-masing. Entah kebetulan atau memang sejak tadi dia mengikuti langkahku, kami akhirnya duduk bersama di sebuah rumah makan soto Madura. Waktu berjalan tanpa terasa. Kami bercerita tentang hal-hal sepele—tentang hidup, tentang masa lalu, tentang hal remeh yang justru terasa bermakna ketika dibagi dengan orang yang tepat. Saat kami menoleh ke kanan dan kiri, tempat itu sudah kosong. Semua telah bubar. Tinggal kami berdua, tertawa kecil karena lupa waktu. Kami pulang berjalan kaki. Di jalan, kami menemukan belimbing wuluh yang asamnya luar biasa. Kenakalan kecil kami meronta—kami “mencuri” dua buah ...

Part (6): Kang Ucun dan Kursi Jendela

Gambar
  Perjalanan yang Tak Pernah Direncanakan Hari Selasa, 14 April 2015, adalah hari yang tak pernah aku rencanakan untuk menjadi cerita panjang dalam hidupku. Di kereta dari Senen menuju Surabaya, aku dipertemukan dengan seorang lelaki berambut gondrong, memakai jaket kulit hitam, bermata besar, dan berwajah garang. Sejujurnya, kesan pertamaku adalah takut. Dalam prasangkaku yang terlalu cepat, aku yakin dia pencopet. Apalagi topi yang ia pakai—topi copet, katanya—yang ia sebut sebagai “topi penutup kesombongan” . Entah serius atau bercanda. Masalah bermula ketika dia mengambil kursi favoritku: kursi dekat jendela. “Itu tempat duduk saya, boleh lihat tiketnya?” tanyaku pelan, berusaha sopan. Dia menjawab santai, “Masinisnya bilang saya duduk di sini.” Aku mengalah. Duduk di sampingnya, menahan kesal dan rasa waswas. Namun ketika ia pergi ke toilet, aku mengambil kembali kursi jendela—kursi yang membuat perjalanan panjang terasa lebih manusiawi. Pemandangan sawah, langit s...

Part (5): India, Bipolar, dan Doa Pelepasan**

Gambar
  India akhirnya aku datangi juga. Negeri yang sejak kecil hanya hadir lewat film dan lagu. Aku punya dua mimpi yang kusimpan lama: jika bukan ke Sungai Nil, maka aku ingin sampai ke  Sungai Gangga . Dan Tuhan memilihkan satu untukku. Selama  tiga bulan , aku tinggal di sana mengikuti  short course  bersama orang-orang dari berbagai negara. Kami datang dengan bahasa, budaya, dan luka yang berbeda, tapi hidup seperti keluarga. Tidak ada yang bertanya masa laluku terlalu jauh. Di sana, aku tidak perlu menjelaskan kenapa aku kadang terlalu sensitif, atau kenapa tawaku sering berdampingan dengan air mata. Suatu hari,  Big Mama Emilia , seorang perempuan berjiwa keibuan, menatapku lama lalu berkata pelan, kepadaku dan sahabatku yang dari Indonesia yaitu Nayah. “You are different. You can cry and laugh at the same time.” Big Mama Emilia berdiri sebelah kiri saya Kalimat itu menghentikanku. Seolah ada seseorang yang akhirnya  melihatku apa adanya , ...

Part (4): Melangkah dengan Diri yang Tidak Lagi Sama

Gambar
                                                    **Part 2 Sakit, Kehilangan Ingatan, dan Doa yang Menjaga Kewarasan** Diagnosis datang seperti kalimat pendek yang berat maknanya: saraf kejepit di bagian belakang kepala . Sejak itu, hidupku berubah perlahan tapi dalam. Aku minum berbagai obat. Termasuk obat herbal yang dibawa ayahku. Sekali minum bisa  tiga puluh tablet . Aku dilarang makan nasi—hanya apel hijau. Tubuhku melemah. Tapi anehnya berat badanku malah naik. Tapi yang paling membuatku takut bukan itu. Aku mulai  kehilangan ingatan . Hal-hal dasar menghilang. Mengoperasikan komputer saja aku lupa. Aku membaca, tapi tidak memahami. Aku menatap layar, tapi pikiranku kosong. Di titik itu, aku tidak hanya sakit—aku  kehilangan identitas . Kesehatan mental tidak selalu ditandai oleh tangis atau teriakan. Kadang ia hadir seba...