Part (15): Episode Depresi pada Bipolar
Minggu, 8 Februari 2026. Hari ketika dadaku terasa sempit, air mata jatuh tanpa izin, dan masa lalu kembali mengetuk—masa awal kambuh yang kukira telah jauh tertinggal setelah lebih dari sepuluh tahun bertahan dengan doa dan keyakinan. Di hari itu, keyakinan terasa rapuh. Bukan karena aku lemah, melainkan karena otakku sedang lelah. Dalam gangguan bipolar, ada hari-hari ketika sistem emosi seperti kehilangan remnya. Secara medis, ini terjadi saat zat kimia otak yang mengatur suasana hati tidak berada dalam keseimbangan dan stres besar menekan dari segala arah. Tekanan finansial yang berat—angka yang terasa mustahil—menjadi pemicu kuat yang membuat pikiran berlari ke tempat paling gelap. Bukan karena aku ingin mengakhiri hidup, tetapi karena aku ingin berhenti dari rasa sakit yang terasa tak tertahankan. Secara ilmiah, kondisi ini berkaitan dengan beberapa mekanisme utama di otak. Ketidakseimbangan neurotransmiter seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin memengaruhi kemampuan otak...