Part (11): Menunggu di Rumdin: Dari Kesabaran, Pingsan, hingga Kebijaksanaan

Senin, 26 Januari 2026

Hari ini seharusnya menjadi hari penting bagi saya. Saya memiliki janji dengan Bapak Bupati Kabupaten Bandung, Drs. H. M. Dadang Supriatana, S.IP., M.Si., pukul 13.00 WIB di Rumah Dinas (Rumdin).

Alhamdulillah, sekitar pukul 12.30 WIB saya sudah tiba di Rumdin dan menunggu di area Satpol PP. Awalnya saya mendapat informasi bahwa akan ada kegiatan rapat koordinasi (RAKOR), sehingga saya diminta menunggu. Belakangan saya mengetahui bahwa informasi mengenai RAKOR tepat pukul 13.00 WIB tersebut tidak sepenuhnya tepat, namun saat itu saya memilih tetap bersabar dan menunggu dengan tenang.

Sekitar pukul 15.00 WIB, saya bertemu seseorang yang tanpa saya duga justru memicu emosi. Rasa kesal itu datang mendadak dan menusuk—nyesek di ulu hati. Padahal selama kurang lebih empat tahun terakhir, saya sedang berjuang mengurus perubahan nama yayasan TK yang saya dirikan. Proses panjang yang melelahkan, penuh dinamika, dan sering kali menguras tenaga serta perasaan.

Pagi harinya, saya lupa minum obat lambung dan obat bipolar. Dalam kondisi fisik yang lemah dan emosi yang terguncang, tubuh saya akhirnya menyerah.
Saya pingsan.
Semua gelap, menghitam, tanpa jeda.

Namun justru dari titik terendah itu, saya menyaksikan sebuah keteduhan.

Dengan kebijaksanaan dan ketenangan, Bapak Bupati Kabupaten Bandung hadir sebagai pemimpin yang menyejukkan. Beliau memanggil Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, dan Dinas Pendidikan. Kami duduk bersama, berbincang, dan saling mendengar. Bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan untuk memahami persoalan secara utuh.

Disdik - Dinkes - Dinsos

Percakapan itu membawa kami pada titik kunci. Meski solusi akhir masih terus kami cari agar menjadi jalan keluar yang maslahat bagi semua pihak, saya merasa satu hal yang sangat berarti:

didengarkan dengan sungguh-sungguh adalah bentuk pertolongan yang nyata.

Terima kasih atas solusi-solusi konkret dan kebijaksanaan yang ditunjukkan, Pak Bupati.
Semoga Bapak senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan untuk terus menjadi pemimpin yang merakyat—membantu bukan karena siapa kita, melainkan karena kita adalah warga Kabupaten Bandung.

Semoga setiap ikhtiar ini bernilai ibadah.
Aamiin.


Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Part (1): Belajar Menerima Diri, Pelan-Pelan

Part (8): Rumah yang Belum Selesai dan Jiwa yang Terluka

Part (5): India, Bipolar, dan Doa Pelepasan**