Part (9): Di Antara Dihakimi dan Dipeluk
Saya datang
membawa cerita, bukan dakwaan.
Saya duduk dan berbicara dengan harapan dipahami—bukan dicurigai.
Namun di
ruang praktik itu, kisah hidup saya dipotong-potong, disusun ulang, lalu
disimpulkan dengan tergesa. Ayah saya seolah diletakkan di kursi pesakitan,
padahal saya tak pernah meminta siapa pun untuk diadili. Saya hanya ingin luka
saya dilihat apa adanya, bukan ditafsirkan dengan cepat dan sepihak.
Yang lebih
menyakitkan, di rumah pun saya sempat tidak dipercaya. Rasa sakit saya dianggap
dibuat-buat. Hingga akhirnya penjelasan medis membuka mata, dan sebuah kata
maaf datang. Terlambat—namun tulus.
Rumah sakit
yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru menghadirkan kepanikan. Di
tengah keramaian, ketidakfokusan layanan, dan kebingungan yang tak sempat
dijelaskan, saya dirujuk begitu saja—tanpa ditenangkan terlebih dahulu. Dari
sana saya belajar: sistem bisa lalai, dan pasien sering kali harus
memperjuangkan suaranya sendiri.
Setahun
kemudian, Jumat, 2 Januari 2026, setelah lama menjaga jarak dari ruang praktik
itu, saya memberanikan diri datang lagi ke psikiater. dengan mengganti pskiater yang lama ke pskiater yang saya pilih sesuai hati.
Bukan karena saya gagal sembuh.
Melainkan karena saya memilih hidup dengan lebih sadar.
Menjaga
diri.
Menjaga emosi.
Menjaga kewarasan.
Agar saya
tetap bisa menjadi istri dan ibu
yang hadir sepenuhnya.
Dan di sana,
saya akhirnya bertemu seseorang yang tidak terburu-buru.
Tidak memaksa.
Tidak menunjuk siapa yang salah.
Saat saya
hampir melukai diri sendiri, ia berkata dengan suara tenang,
“Pukul bantal. Pukul kasur. Lepaskan marahmu dengan aman.”
Lalu ia
bertanya, nyaris berbisik,
“Ibu mau saya peluk?”
Dan saya
menangis.
Bukan karena lemah,
melainkan karena untuk pertama kalinya
saya tidak sedang diperbaiki.
Saya sedang
didengarkan.
Saya sedang dipeluk, tanpa syarat.
Di momen itu
saya mengerti:
sembuh tidak selalu berarti hilangnya luka,
melainkan keberanian untuk tinggal bersama luka
tanpa membencinya.

Komentar
Posting Komentar