Part (12): NRG Terbit: Perjalanan Menuju Gelar Gr.
Hari ini
saya membuka Facebook dan melihat pengumuman yang sudah lama ditunggu: NRG
sudah terbit! Artinya, apa yang ditunggu guru-guru PPG sudah ada.
Alhamdulillah, rasa syukur membuncah di dada saya. Perjalanan panjang ini
akhirnya membuahkan hasil.
Saya ingat
betul di awal proses, saya hampir menyerah. Bipolar dan gangguan saraf saya
kambuh—kondisi mental yang kadang membuat saya kehilangan mimpi, fisik yang
melemah, dan ingatan yang sering retak. Ada hari-hari ketika saya
bertanya-tanya apakah saya sanggup melanjutkan. Tapi Tuhan tidak pernah
membiarkan saya sendiri.
Salah satu
malaikat yang Tuhan kirimkan adalah Bu Kartini, seorang guru di SMA
dengan wajah yang anggun dan hati yang keibuan. Namanya benar-benar sesuai
dengan karakternya. Bu Kartini meyakinkan saya bahwa saya pasti bisa.
"Kalau ada yang belum dipahami, tanya saja sama saya. Saya kan sudah
duluan PPG," katanya dengan senyum hangat. Kata-kata sederhana itu menjadi
penguat yang luar biasa bagi saya.
Sebagai
orang yang perfeksionis, saya tidak bisa mengerjakan sesuatu secara
asal-asalan. Untungnya, selama PPG tidak ada kendala yang berarti. Tes tulis
terasa mudah karena saya hanya harus menulis lebih dari 500 kata—kebetulan
menulis adalah salah satu hobi saya, jadi aman! Tapi ada satu momen yang sempat
bikin deg-degan: saat take video untuk ujian, saya harus mengulang karena yang
mengambil video lupa mematikan notifikasi HP, sehingga video terhenti di tengah
jalan.
Pak
Bismawan benar-benar
sosok yang sabar. Dia meyakinkan saya, "Ulangi aja, pasti hasilnya lebih
bagus," sambil memberikan masukan sana-sini. Alhamdulillah, hasil video
kedua sangat memuaskan. Tidak lupa, Pak Bismawan meminta maaf atas
kelalaiannya, meski saya sama sekali tidak menyalahkannya. Justru saya
bersyukur punya pembimbing seperti beliau.
Bagi saya,
menjadi guru dan mendapat gelar Gr. bukan sekadar gelar
formal. Ini adalah sebuah penghargaan, pengakuan atas perjuangan yang tidak
mudah. Dari awal, saya sudah berkomitmen: sejauh apa pun saya terbang, saya
akan selalu kembali untuk kampung halaman saya. Salah satu bukti komitmen itu
adalah ketika saya mendirikan TK Nailul Fatih dan kini resmi
menjadi guru yang diakui negara di SMA—meskipun dengan segala "keistimewaan"
saya yang nyatanya adalah gangguan, tapi mereka menyebutnya istimewa.


Komentar
Posting Komentar