Part 18: “Yang Diantar Sudah Sampai Mekkah, yang Mengantar Masih di Jalan”
Ucap syukur tiada henti kami panjatkan. Sebuah kebahagiaan
besar ketika pak suami mendapat panggilan untuk menunaikan ibadah haji ke
Baitullah. Mekkah adalah tempat yang selalu dirindukan setiap muslim dan kini benar-benar
menjadi tujuan perjalanan beliau.
Sebelum keberangkatan, tentu banyak persiapan yang harus
dilakukan. Apalagi pak suami bertugas sebagai media center haji, yang berarti
tidak hanya ibadah, tetapi juga menjalankan amanah penting di sana. Persiapan
pun terasa lebih matang dan penuh pertimbangan.
![]() |
| Rabu, 22 April 2026 |
Selama mempersiapkan segala persyaratan haji untuk pak suami, saya juga merasakan nikmat yang luar biasa. Alhamdulillah, kondisi bipolar saya tetap terkendali dan vertigo hanya kambuh satu kali, meskipun tubuh terasa sangat lelah. Di tengah semua kesibukan dan energi besar yang terkuras, Allah begitu baik, saya masih diberi kesehatan hingga saat ini. Emosi pun terasa lebih stabil dan terkendali. Sebelum mengantar pak suami ke Asrama Haji, saya dan keluarga juga menyempatkan diri mengunjungi Monas, menambah kenangan hangat di tengah perjalanan besar ini.
![]() |
| Selasa, 21 April 2026 |
Kami mengantar pak suami ke Asrama Haji Pondok Gede dengan perasaan haru dan bangga. Namun, di balik itu semua, ada cerita sederhana yang justru membekas di hati yaitu tentang mencari sepatu.
Kami sempat berkeliling ke daerah Majalaya dan Ciparay,
berharap menemukan sepatu yang sesuai. Namun ternyata tidak mudah. Ukuran kaki
pak suami adalah 45, sementara yang tersedia hanya sampai ukuran 43. Setelah
beberapa toko didatangi, kami hanya berhasil mendapatkan sandal jepit ukuran
43 dan anehnya, tetap muat di kaki beliau.
Karena sepatu dan sandal gunung belum ditemukan, kami
memutuskan melanjutkan pencarian ke Buah Batu meskipun kami tau jalan menuju kesana banjir tapi selalu ada jalan, jika kita berusaha dengan sungguh-sungguh. Alhamdulillah, akhirnya kami
menemukan sepatu ukuran 45 di sana. Pencarian pun berlanjut ke Antapani, dan
kami berhasil mendapatkan sandal gunung ukuran 44. Rasa lega tak bisa
disembunyikan, persiapan yang sederhana tapi sangat berarti akhirnya terpenuhi.
Tak terasa, perjalanan terus berlanjut. Pikiran ini seperti
ikut berjalan, hingga akhirnya kami sampai di rumah kakak saya di Tangerang,
Teh Evie. Siang itu terasa begitu cepat berlalu.
Pukul 00.46 dini hari, pak suami resmi terbang menuju
Mekkah. Dan sekitar pukul 10.46 pagi, beliau tiba di Bandara King Abdul Aziz,
Jeddah. Ada satu momen yang terasa lucu sekaligus mengharukan, yang diantar
sudah sampai di tanah suci, sementara yang mengantar masih dalam perjalanan
pulang naik bus Primajasa jurusan Lebak Bulus dan akan turun di Cileunyi.
Semua berjalan dengan lancar. Kami benar-benar merasakan
bahwa Allah memampukan hamba-Nya yang diundang ke Baitullah. Karena sejatinya,
meskipun seseorang mampu secara materi, jika belum menjadi rezekinya, maka
jalan itu akan terasa sulit. Sebaliknya, jika sudah menjadi panggilan-Nya,
segala urusan akan dimudahkan.
![]() |
| Kamis, 24 April 2026 |
Kini, yang tersisa adalah doa dan rasa syukur yang tak pernah berhenti. Semoga setiap langkah ibadah pak suami di tanah suci diberkahi, dilindungi, dan kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur.
Aamiin.
Bersambung ....




Komentar
Posting Komentar