Part (6): Kang Ucun dan Kursi Jendela

 


Perjalanan yang Tak Pernah Direncanakan

Hari Selasa, 14 April 2015, adalah hari yang tak pernah aku rencanakan untuk menjadi cerita panjang dalam hidupku.

Di kereta dari Senen menuju Surabaya, aku dipertemukan dengan seorang lelaki berambut gondrong, memakai jaket kulit hitam, bermata besar, dan berwajah garang. Sejujurnya, kesan pertamaku adalah takut. Dalam prasangkaku yang terlalu cepat, aku yakin dia pencopet. Apalagi topi yang ia pakai—topi copet, katanya—yang ia sebut sebagai “topi penutup kesombongan”. Entah serius atau bercanda.

Masalah bermula ketika dia mengambil kursi favoritku: kursi dekat jendela.

“Itu tempat duduk saya, boleh lihat tiketnya?” tanyaku pelan, berusaha sopan.

Dia menjawab santai, “Masinisnya bilang saya duduk di sini.”

Aku mengalah. Duduk di sampingnya, menahan kesal dan rasa waswas. Namun ketika ia pergi ke toilet, aku mengambil kembali kursi jendela—kursi yang membuat perjalanan panjang terasa lebih manusiawi. Pemandangan sawah, langit sore, dan rel panjang sedikit menghiburku.

Sayangnya, kebahagiaan itu singkat.

Ia kembali, marah, mengambil jaketnya, lalu pindah ke kursi kosong di depanku. Sejak itu, kami saling diam. Perjalanan Senen–Surabaya memang membutuhkan persiapan—terutama urusan perut. Malam tiba, dan suara keroncongan dari arah depanku terdengar jelas.

Aku makan dukuh. Sengaja. Sedikit jahat, mungkin. Aku tahu dia melirik, menahan lapar. Sampai akhirnya, tanpa basa-basi, dia mengambil makananku. Aku kaget, tapi justru tertawa. Entah kenapa, aku tidak marah.

Di sepanjang perjalanan, banyak perempuan datang ke tempat dudukku. Aku bingung—aku tidak merasa mengenal mereka, tapi mereka begitu akrab. Setelah diusut, ternyata tujuan mereka bukan aku, melainkan si lelaki gondrong di depanku.

Kami pun berkenalan. Dia wartawan. Aku panitia Harlah PMII ke-55. Obrolan mengalir begitu saja, nyambung tanpa dipaksa. Setiap kali kereta berhenti, dia memanggilku untuk turun, tapi aku menolak. Aku malah menari kecil mengelilingi pot bunga di stasiun-stasiun pemberhentian. Aku menikmati diriku sendiri—untuk pertama kalinya setelah lama terluka.

Saat itu aku sedang dalam proses putus dengan seseorang. Dalam doaku, wajah orang itu bahkan tak pernah muncul—karena kebohongannya tentang status hidupnya akhirnya terungkap. Aku lelah, tapi juga mulai sembuh.

Sesampainya di Surabaya, kami disiapkan satu bus. Aku berjalan paling pelan, paling akhir. Dia sesekali membantuku membawakan tas. Ketika sampai, semua kursi penuh—kecuali satu kursi di sebelahnya, dekat jendela.

Sejak saat itu, dalam hatiku aku memanggilnya “Kang Ucun”. Wajahnya memang garang, tapi perlahan terlihat culun. Dan entah bagaimana, perjalanan yang awalnya penuh prasangka berubah menjadi kisah yang selalu membuatku tersenyum saat mengingatnya.

Kadang, hidup memang mempertemukan kita dengan orang asing bukan untuk selamanya—tetapi untuk mengingatkan bahwa kita masih bisa tertawa, merasa aman, dan percaya lagi.

Di kursi jendela.
Di kereta panjang.
Pada hari Selasa yang biasa, tapi ternyata istimewa.


Bersambung...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Part (1): Belajar Menerima Diri, Pelan-Pelan

Part (8): Rumah yang Belum Selesai dan Jiwa yang Terluka

Part (5): India, Bipolar, dan Doa Pelepasan**