Part (10): Ikhtiar Waras yang Tidak Selalu Nyaman

 Catatan seorang ibu dalam proses pulih

*
Blog ini saya tulis bukan untuk mengeluh,
melainkan untuk jujur.

Tentang tubuh yang sedang belajar beradaptasi,
tentang pikiran yang sedang belajar tenang,
dan tentang seorang ibu yang sedang berikhtiar menjaga kewarasan
agar tetap bisa hadir sepenuhnya bagi keluarganya.

Jika suatu hari tulisan ini dibaca oleh dokter saya,
semoga ia tahu:
saya sungguh sedang berusaha.

** IKHTIAR

Saya datang membawa cerita, bukan dakwaan.
Saya duduk dan berbicara dengan harapan dipahami—bukan dicurigai.

Namun di ruang praktik itu, kisah hidup saya dipotong-potong, disusun ulang, lalu disimpulkan dengan tergesa. Ayah saya seolah diletakkan di kursi pesakitan, padahal saya tak pernah meminta siapa pun untuk diadili. Saya hanya ingin luka saya dilihat apa adanya, bukan ditafsirkan dengan cepat dan sepihak.

Yang lebih menyakitkan, di rumah pun saya sempat tidak dipercaya. Rasa sakit saya dianggap dibuat-buat. Hingga akhirnya penjelasan medis membuka mata, dan sebuah kata maaf datang. Terlambat—namun tulus.

Rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru menghadirkan kepanikan. Di tengah keramaian, ketidakfokusan layanan, dan kebingungan yang tak sempat dijelaskan, saya dirujuk begitu saja—tanpa ditenangkan terlebih dahulu. Dari sana saya belajar: sistem bisa lalai, dan pasien sering kali harus memperjuangkan suaranya sendiri.

Setahun kemudian, Jumat, 2 Januari 2026, setelah lama menjaga jarak dari ruang praktik itu, saya memberanikan diri datang lagi ke psikiater.
Bukan karena saya gagal sembuh.
Melainkan karena saya memilih hidup dengan lebih sadar.

Menjaga diri.
Menjaga emosi.
Menjaga kewarasan.

Agar saya tetap bisa menjadi istri dan ibu
yang hadir sepenuhnya.

*** EFEK OBAT

Pada hari itu, setelah pemeriksaan psikiater, saya diberikan obat:
Divalproex diminum satu tablet setiap pagi,
serta Aripiprazole dan Lorazepam masing-masing satu tablet pada malam hari.

Sejak rutin mengonsumsi obat-obatan ini, tubuh saya mulai memberi respons yang tidak mudah. Lambung saya bermasalah. Sepanjang Januari, saya sudah dua kali masuk IGD dan satu kali dirawat di klinik. Berat badan yang sempat menyentuh 84 kilogram ikut menambah beban pikiran. Jujur, itu membuat saya stres.

Minum obat setiap hari rasanya melelahkan.
Ada capek yang tidak selalu terlihat.
Ada lelah yang tidak selalu bisa dijelaskan.

Tapi mau bagaimana lagi.
Ini ikhtiar untuk sehat.
Dan kadang, ikhtiar memang tidak selalu terasa nyaman.

Saya mencoba berpikir positif. Barangkali, untuk sampai pada pulih, saya memang harus melewati fase sakit terlebih dahulu. Saya yakinkan diri sendiri: nanti, pada tanggal 6 Februari, semua keluhan ini akan saya sampaikan kembali ke psikiater. Pelan-pelan. Satu per satu.

Bismillah saja.
Karena di balik lelah itu, ada satu niat yang tidak berubah:
saya ingin sehat.


**** HARAPAN

Psikiater saya pernah menyarankan satu hal sederhana tapi bermakna:
menulis atau melukis.

Maka saya memilih menulis.
Pertama, karena lebih hemat biaya.
Kedua, karena tulisan lebih mudah dipahami oleh semua kalangan.
Tidak semua orang bisa membaca lukisan,
tapi hampir semua orang bisa merasakan kejujuran lewat kata-kata.

Tulisan-tulisan ini kelak akan saya berikan kepada beliau.
Sebagai bagian dari proses.
Sebagai bukti bahwa saya sedang berusaha.

Dan di perjalanan ini, saya akhirnya bertemu seseorang yang tidak terburu-buru.
Tidak memaksa.
Tidak menunjuk siapa yang salah.

Saat saya hampir melukai diri sendiri, ia berkata dengan suara tenang,
“Pukul bantal. Pukul kasur. Lepaskan marahmu dengan aman.”

Lalu ia bertanya, nyaris berbisik,
“Ibu mau saya peluk?”

Dan saya menangis.

Bukan karena runtuh.
Bukan karena lemah.
Melainkan karena untuk pertama kalinya,
saya tidak sedang diperbaiki.

Saya sedang diterima.

***** ENDING

Sejak hari itu saya mengerti:
sembuh tidak selalu berarti hilangnya luka,
tetapi keberanian untuk hidup berdampingan dengan luka
tanpa membencinya.

Saya belum sepenuhnya pulih.
Tapi saya masih di sini.

Masih minum obat.
Masih belajar tenang.
Masih belajar jujur pada diri sendiri.

Dan hari ini,
itu sudah cukup.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Part (1): Belajar Menerima Diri, Pelan-Pelan

Part (8): Rumah yang Belum Selesai dan Jiwa yang Terluka

Part (5): India, Bipolar, dan Doa Pelepasan**