Part (10): Ikhtiar Waras yang Tidak Selalu Nyaman
Catatan seorang ibu dalam proses pulih
*Tentang
tubuh yang sedang belajar beradaptasi,
tentang pikiran yang sedang belajar tenang,
dan tentang seorang ibu yang sedang berikhtiar menjaga kewarasan
agar tetap bisa hadir sepenuhnya bagi keluarganya.
Jika suatu
hari tulisan ini dibaca oleh dokter saya,
semoga ia tahu:
saya sungguh sedang berusaha.
Saya datang
membawa cerita, bukan dakwaan.
Saya duduk dan berbicara dengan harapan dipahami—bukan dicurigai.
Namun di
ruang praktik itu, kisah hidup saya dipotong-potong, disusun ulang, lalu
disimpulkan dengan tergesa. Ayah saya seolah diletakkan di kursi pesakitan,
padahal saya tak pernah meminta siapa pun untuk diadili. Saya hanya ingin luka
saya dilihat apa adanya, bukan ditafsirkan dengan cepat dan sepihak.
Yang lebih
menyakitkan, di rumah pun saya sempat tidak dipercaya. Rasa sakit saya dianggap
dibuat-buat. Hingga akhirnya penjelasan medis membuka mata, dan sebuah kata
maaf datang. Terlambat—namun tulus.
Rumah sakit
yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru menghadirkan kepanikan. Di
tengah keramaian, ketidakfokusan layanan, dan kebingungan yang tak sempat
dijelaskan, saya dirujuk begitu saja—tanpa ditenangkan terlebih dahulu. Dari
sana saya belajar: sistem bisa lalai, dan pasien sering kali harus
memperjuangkan suaranya sendiri.
Setahun
kemudian, Jumat, 2 Januari 2026, setelah lama menjaga jarak dari ruang praktik
itu, saya memberanikan diri datang lagi ke psikiater.
Bukan karena saya gagal sembuh.
Melainkan karena saya memilih hidup dengan lebih sadar.
Menjaga
diri.
Menjaga emosi.
Menjaga kewarasan.
Agar saya
tetap bisa menjadi istri dan ibu
yang hadir sepenuhnya.
Pada hari
itu, setelah pemeriksaan psikiater, saya diberikan obat:
Divalproex diminum satu tablet setiap pagi,
serta Aripiprazole dan Lorazepam masing-masing satu tablet pada
malam hari.
Sejak rutin
mengonsumsi obat-obatan ini, tubuh saya mulai memberi respons yang tidak mudah.
Lambung saya bermasalah. Sepanjang Januari, saya sudah dua kali masuk IGD dan
satu kali dirawat di klinik. Berat badan yang sempat menyentuh 84 kilogram ikut
menambah beban pikiran. Jujur, itu membuat saya stres.
Minum obat
setiap hari rasanya melelahkan.
Ada capek yang tidak selalu terlihat.
Ada lelah yang tidak selalu bisa dijelaskan.
Tapi mau
bagaimana lagi.
Ini ikhtiar untuk sehat.
Dan kadang, ikhtiar memang tidak selalu terasa nyaman.
Saya mencoba
berpikir positif. Barangkali, untuk sampai pada pulih, saya memang harus
melewati fase sakit terlebih dahulu. Saya yakinkan diri sendiri: nanti, pada
tanggal 6 Februari, semua keluhan ini akan saya sampaikan kembali ke psikiater.
Pelan-pelan. Satu per satu.
Bismillah
saja.
Karena di balik lelah itu, ada satu niat yang tidak berubah:
saya ingin sehat.
**** HARAPAN
Psikiater
saya pernah menyarankan satu hal sederhana tapi bermakna:
menulis atau melukis.
Maka saya
memilih menulis.
Pertama, karena lebih hemat biaya.
Kedua, karena tulisan lebih mudah dipahami oleh semua kalangan.
Tidak semua orang bisa membaca lukisan,
tapi hampir semua orang bisa merasakan kejujuran lewat kata-kata.
Tulisan-tulisan
ini kelak akan saya berikan kepada beliau.
Sebagai bagian dari proses.
Sebagai bukti bahwa saya sedang berusaha.
Dan di
perjalanan ini, saya akhirnya bertemu seseorang yang tidak terburu-buru.
Tidak memaksa.
Tidak menunjuk siapa yang salah.
Saat saya
hampir melukai diri sendiri, ia berkata dengan suara tenang,
“Pukul bantal. Pukul kasur. Lepaskan marahmu dengan aman.”
Lalu ia
bertanya, nyaris berbisik,
“Ibu mau saya peluk?”
Dan saya
menangis.
Bukan karena
runtuh.
Bukan karena lemah.
Melainkan karena untuk pertama kalinya,
saya tidak sedang diperbaiki.
Saya sedang
diterima.
***** ENDING
Sejak hari
itu saya mengerti:
sembuh tidak selalu berarti hilangnya luka,
tetapi keberanian untuk hidup berdampingan dengan luka
tanpa membencinya.
Saya belum
sepenuhnya pulih.
Tapi saya masih di sini.
Masih minum
obat.
Masih belajar tenang.
Masih belajar jujur pada diri sendiri.
Dan hari
ini,
itu sudah cukup.


Komentar
Posting Komentar