Part 17: “Dari Disebut ‘Gila’ Menjadi ‘Istimewa’: Cerita Saya di Hari Bipolar Sedunia”


 

Tanggal 30 Maret selalu punya makna yang berbeda bagi saya.


Hari ini adalah Hari Bipolar Sedunia (World Bipolar Day) dan untuk pertama kalinya, saya benar-benar merasakannya bukan sekadar peringatan, tapi sebagai pelukan.

Sebagai penyandang disabilitas mental dengan Gangguan Bipolar, perjalanan saya tidak selalu mudah. Ada hari-hari ketika saya merasa sangat kuat, penuh energi, bahkan seperti bisa melakukan apa saja. Tapi di hari lain, semuanya terasa runtuh, lelah yang tidak terlihat, sedih yang sulit dijelaskan, dan pikiran yang terasa begitu sempit.

Saya pernah berada di fase manik, bahkan dengan gejala psikotik. Di saat itu, dunia terasa begitu cepat, pikiran melompat-lompat, dan realitas terasa kabur. Lalu di waktu lain, saya jatuh ke titik yang sangat rendah, di mana bangun dari tempat tidur saja terasa seperti perjuangan besar.

Namun hari ini… berbeda.
Hari ini, saya merasa tidak sendiri.

Mengapa 30 Maret?

Tanggal ini dipilih untuk memperingati hari lahir Vincent van Gogh, seorang pelukis dunia yang karyanya sangat indah, tetapi hidupnya dipenuhi pergulatan batin. Banyak yang meyakini bahwa ia juga mengalami kondisi yang serupa dengan bipolar.

Bagi saya, ini bukan sekadar sejarah.
Ini adalah pengingat bahwa bahkan di tengah luka, seseorang tetap bisa menciptakan keindahan.

Perjalanan yang Tidak Terlihat

Banyak orang mungkin tidak melihat apa yang sebenarnya saya lalui.

Mereka hanya melihat saya sebagai seorang ibu, seorang guru, seseorang yang “baik-baik saja”. Tapi di balik itu, ada hari-hari di mana saya harus berjuang melawan pikiran sendiri.

Saya juga pernah merasa takut.
Takut kambuh.
Takut tidak bisa mengendalikan diri.
Takut tidak dipahami.

Titik Terendah yang Pernah Saya Alami

Ada satu fase dalam hidup saya yang sangat menyakitkan.

Saya pernah dianggap “gila” oleh sebagian orang.
Cerita tentang saya berpindah dari satu telinga ke telinga lain, dari satu mulut ke mulut yang lain, tanpa saya bisa menghentikannya.

Saat itu, saya hanya bisa diam.
Merasa malu.
Merasa kecil.
Dan tidak bisa berkutik.

Rasanya seperti kehilangan suara di tengah keramaian.

Ada momen di mana pikiran saya begitu gelap.
Saya merasa lelah dengan semuanya.
Namun satu hal yang menahan saya tetap bertahan adalah keyakinan saya, bahwa mengakhiri hidup bukanlah jalan keluar.

Dan di titik itu, saya memilih… untuk tetap hidup.
Meski pelan.
Meski sakit.

Rutinitas yang Menjadi Bagian dari Hidup

Setiap bulan, saya rutin kontrol ke rumah sakit. Ruang tunggu, antrean, dan percakapan dengan dokter menjadi bagian dari perjalanan saya.

Saya mengonsumsi obat seperti Clobazam, Trihexyphenidyl, dan Aripiprazole.
Saya tidak tahu sampai kapan harus meminumnya.

Kadang terasa berat.
Kadang mempertanyakan semuanya.

Namun perlahan, saya belajar menerima, bahwa ini adalah bagian dari usaha saya untuk tetap stabil. Dan pada akhirnya, semua menjadi terbiasa.

Titik Balik: Ketika Dunia Mulai Diam

Waktu berlalu.
Saya tetap menjalani hari-hari saya.
Tetap bangun pagi.
Tetap mengurus keluarga.
Tetap mengajar.

Dan tanpa saya sadari, suara-suara itu mulai hilang.

Omongan orang yang dulu begitu ramai… perlahan menjadi diam.

Bahkan, orang-orang yang dulu meragukan saya mulai berkata bahwa saya “istimewa”.

Bukan karena saya berubah menjadi sempurna.

Tapi karena saya memilih untuk tidak berhenti.

Hari Ini: Sebuah Pengingat

Hari Bipolar Sedunia mengingatkan saya bahwa di luar sana, ada banyak orang yang juga berjuang dengan cerita mereka masing-masing.

Saya mungkin tidak mengenal mereka.
Tapi kami terhubung… oleh rasa yang sama.

Dan hari ini, saya ingin mengatakan:

Kita tidak sendiri.

Seperti Vincent van Gogh yang tetap melukis di tengah badai dalam dirinya, saya pun ingin terus melangkah meski perlahan, meski tertatih.

Karena hidup ini bukan tentang menjadi sempurna.
Tapi tentang bertahan, memahami diri, dan tetap menemukan harapan.

Saya pernah berada di titik terendah.
Saya pernah diremehkan.
Tapi hari ini, saya masih di sini.

Dan itu… sudah lebih dari cukup.


Bersambung ....

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Part (1): Belajar Menerima Diri, Pelan-Pelan

Part (8): Rumah yang Belum Selesai dan Jiwa yang Terluka

Part (5): India, Bipolar, dan Doa Pelepasan**