Part (5): India, Bipolar, dan Doa Pelepasan**

 

India akhirnya aku datangi juga.
Negeri yang sejak kecil hanya hadir lewat film dan lagu. Aku punya dua mimpi yang kusimpan lama: jika bukan ke Sungai Nil, maka aku ingin sampai ke Sungai Gangga. Dan Tuhan memilihkan satu untukku.

Selama tiga bulan, aku tinggal di sana mengikuti short course bersama orang-orang dari berbagai negara. Kami datang dengan bahasa, budaya, dan luka yang berbeda, tapi hidup seperti keluarga. Tidak ada yang bertanya masa laluku terlalu jauh. Di sana, aku tidak perlu menjelaskan kenapa aku kadang terlalu sensitif, atau kenapa tawaku sering berdampingan dengan air mata.

Suatu hari, Big Mama Emilia, seorang perempuan berjiwa keibuan, menatapku lama lalu berkata pelan, kepadaku dan sahabatku yang dari Indonesia yaitu Nayah.

“You are different. You can cry and laugh at the same time.”

Big Mama Emilia berdiri sebelah kiri saya

Kalimat itu menghentikanku.

Seolah ada seseorang yang akhirnya melihatku apa adanya, tanpa diagnosis, tanpa stigma.

Korabe & Nayah

Di situlah ingatanku kembali pada resep psikiater yang pernah kuterima. Aku sadar betul—obat itu adalah obat bipolar. Aku tahu sejak lama, sebenarnya. Tapi aku memilih diam. Bukan karena menyangkal, melainkan karena malu.

Disabilitas mental di negeriku masih sering dianggap kurang iman, kurang kuat, atau kurang bersyukur. Aku tidak ingin dijelaskan dengan prasangka. Maka aku memeluk diamku sendiri.

Namun aku tetap menganggap 2014 sebagai tahun keberuntunganku. Setelah sakit panjang, setelah ingatan yang runtuh, aku masih bisa mengikuti seleksi ke luar negeri—dan lulus. Itu bukan hal kecil. Itu adalah bukti bahwa aku belum selesai.

Di tepi Sungai Gangga, aku berdiri lama. Airnya mengalir membawa doa-doa jutaan manusia. Aku melarungkan beban hidupku ke sana.

“Tuhan berada di mana pun.
Bismillah, doaku tertuju pada-Mu.
Tolong, semua beban dan segala yang akan menyakitkan di kemudian hari,
jauhkanlah dari hidupku.”

Aku tidak meminta hidup yang bebas luka.
Aku hanya meminta kejujuran dan perlindungan.

Dan Tuhan menjawab dengan caranya sendiri.

**

Tentang Melepas, dan Dipertemukan Tanpa Diduga**

Sekembalinya ke Indonesia, aku berpisah dengan calonku. Belakangan aku tahu, ia berbohong. Mengaku belum pernah menikah, padahal seorang duda. Saat itu aku sakit, tapi tidak hancur. Ada perasaan aneh: lega bercampur sedih.

Aku akhirnya mengerti—
doaku di Gangga bukan menghapus luka, tapi menjauhkan kebohongan.

Tak lama setelah itu, aku ikut kegiatan Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII)  ke Surabaya untuk merayakan hari lahir PMII ke-55 yang berpusat di Mesjid Nasional  Al-Akbar yang dihadiri oleh Presiden Jokowi dan ribuan kader.

Tanggal 14 April 2015.

Di gerbong kereta api, terjadi hal sepele: perebutan kursi. Karena itulah aku duduk di depan seorang lelaki gondrong. Dalam hatiku aku bergumam, “Ini pasti bukan orang Sunda.”

Aku kembali salah.

Namanya Abdullah Alawi.
Seorang wartawan NU Online, asal Sukabumi.

Kami tidak langsung jatuh cinta. Tidak ada kilat atau musik dramatis. Yang ada hanya percakapan yang jujur, tawa yang wajar, dan rasa aman yang tidak memaksa.

Dalam hidupku yang pernah rapuh karena sakit mental, aku belajar satu hal:
cinta yang dewasa tidak membuatmu lupa diri—ia membuatmu lebih utuh.

Aku tidak memilih pasangan yang menyelamatkanku.
Aku memilih seseorang yang mau berjalan pelan bersamaku, dengan luka yang sudah kuakui.

**

Untuk Kamu yang Hidup dengan Bipolar dan Masih Bertahan**

Aku menulis ini untukmu yang hidup dengan bipolar, depresi, atau luka mental lain yang tak selalu terlihat.

Aku pernah malu pada diriku sendiri.
Aku pernah kehilangan ingatan.
Aku pernah tertawa dan menangis di waktu yang sama.
Aku pernah dianggap “aneh”, “kurang fokus”, bahkan “kurang iman”.

Tapi aku juga:

  • lulus seleksi ke luar negeri
  • berdiri di tepi Sungai Gangga sambil berdoa
  • melepas hubungan yang tidak jujur
  • dan menemukan cinta yang tidak menuntut kesempurnaan

Gangguan mental tidak membuatmu rusak.
Ia hanya membuatmu harus lebih jujur pada diri sendiri.

Pemulihan bukan tentang kembali menjadi “normal”.
Pemulihan adalah tentang berdamai, pelan-pelan.

Jika hari ini kamu masih hidup, masih membaca, masih berharap—
itu sudah cukup untuk disebut keberanian.


Bersambung...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Part (1): Belajar Menerima Diri, Pelan-Pelan

Part (8): Rumah yang Belum Selesai dan Jiwa yang Terluka