Part (4): Melangkah dengan Diri yang Tidak Lagi Sama

                                                   

**Part 2

Sakit, Kehilangan Ingatan, dan Doa yang Menjaga Kewarasan**

Diagnosis datang seperti kalimat pendek yang berat maknanya:
saraf kejepit di bagian belakang kepala.

Sejak itu, hidupku berubah perlahan tapi dalam. Aku minum berbagai obat. Termasuk obat herbal yang dibawa ayahku. Sekali minum bisa tiga puluh tablet. Aku dilarang makan nasi—hanya apel hijau. Tubuhku melemah. Tapi anehnya berat badanku malah naik. Tapi yang paling membuatku takut bukan itu.

Aku mulai kehilangan ingatan.

Hal-hal dasar menghilang. Mengoperasikan komputer saja aku lupa. Aku membaca, tapi tidak memahami. Aku menatap layar, tapi pikiranku kosong. Di titik itu, aku tidak hanya sakit—aku kehilangan identitas.

Kesehatan mental tidak selalu ditandai oleh tangis atau teriakan.
Kadang ia hadir sebagai kebingungan sunyi:
“Aku ini siapa, dan kenapa aku tidak bisa menjadi diriku sendiri?”

Suatu hari, Mas Fatkhu, senior di MMD Initiative sekaligus dosen UNUSIA, memarahiku.
“Nilai komputer kamu A, tapi kok begini?”

Aku diam. Aku tidak marah. Aku tidak tersinggung. Aku hanya tidak tahu harus menjelaskan apa—karena aku sendiri tidak mengerti apa yang sedang terjadi di kepalaku.

Beberapa hari kemudian, ia datang lagi. Untuk meminta maaf. Katanya, ia tidak bisa tidur karena merasa bersalah. Di saat itu aku belajar: empati adalah obat yang tak tertulis di resep dokter.

Obat herbal akhirnya kuhentikan. Tapi tubuhku sudah terlalu lelah. Muncul benjolan di mata. Karena keterbatasan biaya, aku menunda pengobatan. Hingga kondisinya memburuk.

Pak Quraisy menegurku,
“Kenapa tidak bilang?”

MMD Initiative membantu biaya pengobatanku. Operasi seharusnya menelan biaya 15 juta rupiah, tapi di ruang dokter hanya sekitar 4 jutaan. Aku memilih itu. Bukan karena berani—tapi karena aku tahu batas.

Dokter berkata, jika ingin cepat sembuh, operasi harus dilakukan tanpa anestesi.
Aku menjawab, “Saya siap.”

Sakitnya nyata. Tapi di titik itu, aku sudah terlalu lelah untuk takut. Aku bertahan dengan doa yang lirih, dengan keyakinan bahwa hidupku masih layak diperjuangkan. Dokter bahkan berkata sambil tertawa,
“Ini pasien pertama yang seperti ini.”

Tak lama setelah itu, MMD Initiative mulai bubar, beriringan dengan perubahan politik nasional. Aku pun di berhentikan dulu dengan jeda waktu yang tak tentu. Aku ikut Kongres PMII di Palembang, pada masa terpilihnya Aminuddin Ma’ruf, yang kini menjadi Wamen BUMN. Perjalananku di MMD berakhir.

Aku kemudian bergabung dengan PB KOPRI, di Biro Hubungan Internasional. Perlahan-lahan, aku belajar lagi. Mengingat. Memahami. Menerima bahwa pemulihan tidak selalu mengembalikan kita ke versi lama—tapi membawa kita pada versi yang lebih jujur.

Aku lulus.
Aku bertahan.
Dan akhirnya, aku pergi ke India, bersama sahabatku Nayah.

Sakit ini tidak sepenuhnya hilang.
Namun iman mengajarkanku satu hal:
kewarasan bukan tentang selalu kuat, melainkan tentang tetap berharap meski pernah hancur.

 

Part 4: Bersambung...

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Part (1): Belajar Menerima Diri, Pelan-Pelan

Part (8): Rumah yang Belum Selesai dan Jiwa yang Terluka

Part (5): India, Bipolar, dan Doa Pelepasan**