Part (8): Rumah yang Belum Selesai dan Jiwa yang Terluka
"Aku tidak lemah—aku hanya kelelahan setelah terlalu lama bertahan."
Tahun 2024
menjadi salah satu bab paling berat dalam hidup kami. Sebuah kejadian
pencokelan—upaya paksa untuk masuk ke rumah—mengguncang rasa aman kami. Rumah
itu kami bangun sejak Desember 2020, dengan segala keterbatasan, dan sebagian
belum selesai. Ketidaksempurnaan itulah yang rupanya mengundang niat jahat
orang lain.
Di tahun
yang sama, dengan tiga anak yang harus kami lindungi dan penuhi kebutuhannya,
suami saya bekerja sebagai wartawan. Penghasilannya jujur saja tidak besar.
Menyelesaikan rumah terasa semakin berat. Pada titik itu, saya mengambil
keputusan yang saya kira paling masuk akal: meminjam uang sebesar 50 juta
rupiah ke Bank BJB, dengan rekomendasi dari sekolah tempat saya mengajar.
Sekolah itu
istimewa bagi saya. Ia adalah tempat yang selalu memberi semangat setiap kali
saya melangkah berangkat mengajar. Sekolah itu diperkenalkan oleh adik kelas
saya, Neng Hj. Cantik—cantik bukan hanya parasnya, tapi juga di mata saya
sebagai manusia. Namun, semuanya berubah ketika proses peminjaman dimulai.
Saya
membutuhkan tanda tangan sekolah. Teman-teman guru lain sudah lebih dulu
meminjam dan prosesnya berjalan aman. Hanya saya yang harus bolak-balik
mengirim pesan, datang ke sekolah, menunggu kepastian. Bahkan, pernah saya
diusir dari kantor karena dianggap mengganggu—padahal saya hanya ingin tahu:
apakah rekomendasi itu diberikan atau tidak.
Perjuangan
itu mencapai titik yang sangat melelahkan. Suatu hari, saya, suami, dan anak
bungsu kami menunggu hingga sore. Hujan turun tanpa henti. Kami tetap menunggu,
berharap beliau datang. Namun, hingga hujan mulai mereda, beliau tak kunjung
muncul. Kami pun pulang, ditemani hujan yang tak besar, tapi setia membasahi
langkah kami.
Malam itu
tubuh saya menggigil hebat. Kaki saya terasa lemah hanya karena terkena air
hujan. Keesokan paginya, ambulans datang. Saya tersadar saat sudah berada di
ruang perawatan rumah sakit.
Delapan hari
saya dirawat. Di tengah kondisi itu, saya mendengar kabar bahwa tanda tangan
akhirnya diberikan. Kakak saya yang mengambilnya, karena saat itu suami saya
menolak dan meminta agar peminjaman dibatalkan. Namun, kakak saya takut masalah
menjadi semakin besar, sehingga tanda tangan tetap diambil.
Sejarah
seakan terulang. Bukan hanya pemeriksaan fisik yang saya jalani, tetapi juga
pemeriksaan kejiwaan. Saya dihadapkan pada psikiater—lagi. Hingga hari ini,
saya resmi menjadi pasien poli jiwa di RSUD Welas Asih.
Saya menulis
ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Saya menulis untuk jujur pada diri
sendiri, bahwa ada perjuangan yang melelahkan, ada luka yang tak terlihat, dan
ada harga yang harus dibayar ketika kita bertahan terlalu lama tanpa jeda.
Semoga
tulisan ini menjadi pengingat bahwa di balik senyum seorang ibu, seorang guru,
seorang istri—sering kali tersimpan cerita panjang tentang bertahan. Dan
semoga, suatu hari nanti, luka ini benar-benar menemukan jalannya untuk pulih.
Bersambung...

Komentar
Posting Komentar