Part (14): Jumat Berkah di Tengah Manik dan Psikotik
Jumat, 6 Februari 2026
menjadi hari yang ingin saya simpan baik-baik dalam ingatan.
Hari itu terasa seperti berkah kecil yang jatuh
perlahan, tidak gaduh, tapi cukup untuk membuat saya bernapas sedikit lebih
lega.
Anak perempuan saya dinyatakan sembuh dari amandel.
Tidak perlu kontrol ke dokter lagi. Mendengar kalimat sederhana itu, hati saya
seperti diringankan. Sebagai orang tua, kesehatan anak adalah doa yang paling
sering kita ucapkan, bahkan saat kita sendiri sedang tidak baik-baik saja.
Di hari yang sama, kondisi saya juga menunjukkan perubahan. Dosis obat saya diturunkan menjadi setengah dari sebelumnya.
![]() |
| untuk 30 hari |
Saya tahu, ini bukan berarti sembuh. Saya juga belum remisi. Saya masih berada dalam fase bipolar manik dengan gejala psikotik. Tapi dibandingkan bulan lalu—saat depresi menelan hampir seluruh tenaga dan harapan—hari ini saya masih bisa berdiri.
Apa Itu Bipolar Manik dengan Gejala
Psikotik?
Bipolar bukan sekadar perubahan suasana hati biasa.
Pada fase manik, tubuh dan pikiran seperti melaju terlalu cepat:
- Energi
berlebih, sulit tidur
- Pikiran
meloncat-loncat
- Bicara
cepat, ide terasa tak habis
- Merasa
sangat yakin pada pikiran sendiri
Ketika gejala psikotik ikut muncul, kondisinya
menjadi lebih berat. Pikiran bisa bercampur dengan hal-hal yang tidak sesuai
realitas, seperti:
- Keyakinan
yang sulit dikoreksi
- Pikiran
yang terasa “sangat benar” padahal tidak logis
- Kadang
muncul persepsi yang tidak dialami orang lain
Ini bukan kurang iman, bukan kurang kuat, dan bukan
pula salah karakter.
Ini adalah kondisi medis yang nyata dan membutuhkan pengobatan,
pendampingan, serta kesabaran—baik dari diri sendiri maupun orang sekitar.
![]() |
| RSUD WELAS ASIH |
Saya belum sembuh.
Saya belum sampai pada kata remisi.
Namun hari ini saya punya harapan.
Harapan bahwa:
- Obat
mulai bekerja, meski perlahan
- Tubuh
saya masih merespons pengobatan
- Saya
tidak kembali jatuh sedalam bulan lalu
- Saya
masih diberi kesempatan untuk berjuang
Dalam kondisi manik dan psikotik, harapan sering kali
terasa kabur. Tapi justru di situlah saya belajar: harapan tidak harus besar
untuk menjadi nyata. Kadang cukup berupa dosis obat yang diturunkan, atau
kabar dokter yang mengatakan, “sudah membaik.”
Tau tidak Bertahan Juga Bentuk Kemenangan
Hari ini saya belajar satu hal penting:
bertahan pun adalah sebuah kemenangan.
Jika kamu yang membaca tulisan ini juga sedang berjuang
dengan gangguan kesehatan mental—apa pun bentuknya—ketahuilah bahwa tidak
apa-apa jika prosesmu lambat. Tidak apa-apa jika belum sembuh. Selama masih ada
langkah kecil ke arah yang lebih baik, itu sudah berarti.
Jumat ini bukan akhir cerita.
Tapi Jumat ini memberi saya alasan untuk tetap melanjutkan perjalanan.
Bersambung....



Komentar
Posting Komentar