Part (7): Ketika Pertemuan Sederhana Berujung Seumur Hidup

 

Puncak acara Harlah PMII pada 17 April berlangsung begitu meriah. Presiden Jokowi hadir membuka acara, dan seluruh kader PMII larut dalam suka cita yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Hari itu terasa penuh, padat, dan berisik—namun justru dari keramaian itulah cerita paling sunyi dalam hidupku bermula.

Setelah acara selesai, orang-orang sibuk berbincang dengan sahabatnya masing-masing. Entah kebetulan atau memang sejak tadi dia mengikuti langkahku, kami akhirnya duduk bersama di sebuah rumah makan soto Madura. Waktu berjalan tanpa terasa. Kami bercerita tentang hal-hal sepele—tentang hidup, tentang masa lalu, tentang hal remeh yang justru terasa bermakna ketika dibagi dengan orang yang tepat.

Saat kami menoleh ke kanan dan kiri, tempat itu sudah kosong. Semua telah bubar. Tinggal kami berdua, tertawa kecil karena lupa waktu.

Kami pulang berjalan kaki. Di jalan, kami menemukan belimbing wuluh yang asamnya luar biasa. Kenakalan kecil kami meronta—kami “mencuri” dua buah itu sambil tertawa. Maafkan kami ya, Tuhan.

Sesampainya di kamarku, dia berpamitan pulang. Esoknya, rombongan pulang, tetapi kami memutuskan untuk mampir ke Lirboyo dan beberapa tempat lain, sebelum akhirnya kembali ke Jakarta.

Tak lama setelah itu, dia menyampaikan keinginannya untuk datang ke rumah dan bertemu orang tuaku. Jujur, aku kaget. Baru juga kenal, kok sudah sejauh ini? batinku. Namun pada Rabu, 13 Mei 2015, dia benar-benar datang ke rumah dan menyampaikan niatnya secara langsung: dia ingin serius denganku.

Orang tuaku terkejut. Terlebih karena sebelumnya ada lelaki lain yang juga sempat datang ke rumah—namun kemudian justru berkata tidak ingin menyudahi hubungan denganku. Orang tuaku tidak memaksakan apa pun. Mereka berkata, pilihan hidup ada di tanganku.

Aku pun membuat keputusan: aku mengakhiri hubungan dengan lelaki itu.

Tak lama berselang, Kang Ucun—yang kini kupanggil Kang Alawi—datang melamarku pada Jumat, 12 Juni 2015. Prosesi lamaran berlangsung sakral dan dihadiri dua keluarga besar. Tidak berlebihan, tidak berisik, tapi penuh makna.

Kami kemudian memutuskan untuk menikah pada Minggu, 18 Oktober 2015, dengan sebuah komitmen pranikah yang sederhana namun dalam maknanya:

“Saat-saat yang sudah terjadi dalam hidup kita adalah kenangan dan hak milik masing-masing. Tetapi sekarang dan seterusnya adalah milik kita. (Aku)

Tuhan mempertemukan dan menyandingkan kita untuk belajar sepanjang usia.” (Dia)

Sebelumnya, Kang Alawi pernah bertemu dengan sahabat-sahabat terdekatku: Miftakh dan Ali. Ali mengaku sebenarnya setuju denganku bersama Kang Alawi, hanya saja masih merasa kasihan pada lelaki sebelumnya. Miftakh berkata satu kalimat yang menancap kuat di hatiku:

“Menikahlah dengan Kang Alawi. Dia tepat dan akan baik kepadamu. Pilihlah dengan hati, karena seumur hidup itu lama.”

Dan benar. Kebahagiaanku terasa utuh. Lelaki yang kupilih direstui keluarga, sahabat terdekat, dan seolah-olah seluruh semesta pun ikut mengamini. Proses pernikahan kami berjalan sangat lancar.

Hari ini, dari pertemuan tak terduga itu, Tuhan menghadiahkan kami satu putri dan dua putra—amanah paling indah dalam hidupku.

Jika aku menoleh ke belakang, aku percaya:

Tuhan selalu punya cara paling lembut untuk mempertemukan dua manusia yang memang ditakdirkan belajar bersama, sepanjang usia.


Bersambung...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Part (1): Belajar Menerima Diri, Pelan-Pelan

Part (8): Rumah yang Belum Selesai dan Jiwa yang Terluka

Part (5): India, Bipolar, dan Doa Pelepasan**