Postingan

Part (13): Di Tengah Vertigo dan Luruhnya Harapan, Aku Belajar Bersyukur

Gambar
28 Januari 2026 menjadi salah satu hari yang kembali menguji fisik dan mentalku. Hari ini aku kontrol ke RSUD Welas Asih, ke poli saraf. Vertigo yang kualami sudah berada pada tahap yang benar-benar melemahkan. Mual hebat, muntah, tubuh tak lagi bisa diajak kompromi. Masyaallah… rasanya bukan sekadar pusing, tapi dunia seperti berputar tanpa jeda. Syukurnya, vertigo ini tidak disertai dengungan di telinga. Namun tetap saja, penglihatanku melemah total. Semua terasa kabur dan menakutkan. Aku sempat teringat betapa banyak informasi di internet tentang vertigo—jujur saja, membacanya kadang membuat dada berdegup lebih kencang. Banyak kemungkinan, banyak kekhawatiran. Dan mungkin, kondisi inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa pada hari Senin sebelumnya aku sampai pingsan. Yang membuat hati sedikit perih adalah ketika pihak Kemendiknas menyarankan agar penangananku dilakukan di puskesmas. Padahal, setelah berkonsultasi dengan dokter di Welas Asih, dr. Cik Elber, jelas disampaikan...

Part (12): NRG Terbit: Perjalanan Menuju Gelar Gr.

Gambar
  Hari ini saya membuka Facebook dan melihat pengumuman yang sudah lama ditunggu: NRG sudah terbit! Artinya, apa yang ditunggu guru-guru PPG sudah ada. Alhamdulillah, rasa syukur membuncah di dada saya. Perjalanan panjang ini akhirnya membuahkan hasil. Saya ingat betul di awal proses, saya hampir menyerah. Bipolar dan gangguan saraf saya kambuh—kondisi mental yang kadang membuat saya kehilangan mimpi, fisik yang melemah, dan ingatan yang sering retak. Ada hari-hari ketika saya bertanya-tanya apakah saya sanggup melanjutkan. Tapi Tuhan tidak pernah membiarkan saya sendiri. Salah satu malaikat yang Tuhan kirimkan adalah  Bu Kartini , seorang guru di SMA dengan wajah yang anggun dan hati yang keibuan. Namanya benar-benar sesuai dengan karakternya. Bu Kartini meyakinkan saya bahwa saya pasti bisa. "Kalau ada yang belum dipahami, tanya saja sama saya. Saya kan sudah duluan PPG," katanya dengan senyum hangat. Kata-kata sederhana itu menjadi penguat yang luar biasa bagi saya. ...

Part (11): Menunggu di Rumdin: Dari Kesabaran, Pingsan, hingga Kebijaksanaan

Gambar
Senin, 26 Januari 2026 Hari ini seharusnya menjadi hari penting bagi saya. Saya memiliki janji dengan Bapak Bupati Kabupaten Bandung, Drs. H. M. Dadang Supriatana, S.IP., M.Si. , pukul 13.00 WIB di Rumah Dinas (Rumdin). Alhamdulillah, sekitar pukul 12.30 WIB saya sudah tiba di Rumdin dan menunggu di area Satpol PP. Awalnya saya mendapat informasi bahwa akan ada kegiatan rapat koordinasi (RAKOR) , sehingga saya diminta menunggu. Belakangan saya mengetahui bahwa informasi mengenai RAKOR tepat pukul 13.00 WIB tersebut tidak sepenuhnya tepat , namun saat itu saya memilih tetap bersabar dan menunggu dengan tenang. Sekitar pukul 15.00 WIB , saya bertemu seseorang yang tanpa saya duga justru memicu emosi. Rasa kesal itu datang mendadak dan menusuk—nyesek di ulu hati. Padahal selama kurang lebih empat tahun terakhir , saya sedang berjuang mengurus perubahan nama yayasan TK yang saya dirikan. Proses panjang yang melelahkan, penuh dinamika, dan sering kali menguras tenaga serta perasaan. ...

Part (10): Ikhtiar Waras yang Tidak Selalu Nyaman

Gambar
 Catatan seorang ibu dalam proses pulih * Blog ini saya tulis bukan untuk mengeluh, melainkan untuk jujur. Tentang tubuh yang sedang belajar beradaptasi, tentang pikiran yang sedang belajar tenang, dan tentang seorang ibu yang sedang berikhtiar menjaga kewarasan agar tetap bisa hadir sepenuhnya bagi keluarganya. Jika suatu hari tulisan ini dibaca oleh dokter saya, semoga ia tahu: saya sungguh sedang berusaha. ** IKHTIAR Saya datang membawa cerita, bukan dakwaan. Saya duduk dan berbicara dengan harapan dipahami—bukan dicurigai. Namun di ruang praktik itu, kisah hidup saya dipotong-potong, disusun ulang, lalu disimpulkan dengan tergesa. Ayah saya seolah diletakkan di kursi pesakitan, padahal saya tak pernah meminta siapa pun untuk diadili. Saya hanya ingin luka saya dilihat apa adanya, bukan ditafsirkan dengan cepat dan sepihak. Yang lebih menyakitkan, di rumah pun saya sempat tidak dipercaya. Rasa sakit saya dianggap dibuat-buat. Hingga akhirnya penjelasan medis membuka ...

Part (9): Di Antara Dihakimi dan Dipeluk

Gambar
  Saya datang membawa cerita, bukan dakwaan. Saya duduk dan berbicara dengan harapan dipahami—bukan dicurigai. Namun di ruang praktik itu, kisah hidup saya dipotong-potong, disusun ulang, lalu disimpulkan dengan tergesa. Ayah saya seolah diletakkan di kursi pesakitan, padahal saya tak pernah meminta siapa pun untuk diadili. Saya hanya ingin luka saya dilihat apa adanya, bukan ditafsirkan dengan cepat dan sepihak. Yang lebih menyakitkan, di rumah pun saya sempat tidak dipercaya. Rasa sakit saya dianggap dibuat-buat. Hingga akhirnya penjelasan medis membuka mata, dan sebuah kata maaf datang. Terlambat—namun tulus. Rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru menghadirkan kepanikan. Di tengah keramaian, ketidakfokusan layanan, dan kebingungan yang tak sempat dijelaskan, saya dirujuk begitu saja—tanpa ditenangkan terlebih dahulu. Dari sana saya belajar: sistem bisa lalai, dan pasien sering kali harus memperjuangkan suaranya sendiri. Setahun kemudian, Jumat, 2 ...

Part (8): Rumah yang Belum Selesai dan Jiwa yang Terluka

Gambar
  "Aku tidak lemah—aku hanya kelelahan setelah terlalu lama bertahan."                                           Kehidupan rumah tangga tidak selalu berakhir dengan sempurna, meski telah diperjuangkan sepenuh hati. Namun, bagi kami, perjuangan itu terasa sangat layak—demi tiga buah hati tercinta yang menjadi alasan kami untuk tetap bertahan. Tahun 2024 menjadi salah satu bab paling berat dalam hidup kami. Sebuah kejadian pencokelan—upaya paksa untuk masuk ke rumah—mengguncang rasa aman kami. Rumah itu kami bangun sejak Desember 2020, dengan segala keterbatasan, dan sebagian belum selesai. Ketidaksempurnaan itulah yang rupanya mengundang niat jahat orang lain. Di tahun yang sama, dengan tiga anak yang harus kami lindungi dan penuhi kebutuhannya, suami saya bekerja sebagai wartawan. Penghasilannya jujur saja tidak besar. Menyelesaikan rumah terasa semakin berat. Pada titik itu...

Part (7): Ketika Pertemuan Sederhana Berujung Seumur Hidup

Gambar
  Puncak acara Harlah PMII pada 17 April berlangsung begitu meriah. Presiden Jokowi hadir membuka acara, dan seluruh kader PMII larut dalam suka cita yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Hari itu terasa penuh, padat, dan berisik—namun justru dari keramaian itulah cerita paling sunyi dalam hidupku bermula. Setelah acara selesai, orang-orang sibuk berbincang dengan sahabatnya masing-masing. Entah kebetulan atau memang sejak tadi dia mengikuti langkahku, kami akhirnya duduk bersama di sebuah rumah makan soto Madura. Waktu berjalan tanpa terasa. Kami bercerita tentang hal-hal sepele—tentang hidup, tentang masa lalu, tentang hal remeh yang justru terasa bermakna ketika dibagi dengan orang yang tepat. Saat kami menoleh ke kanan dan kiri, tempat itu sudah kosong. Semua telah bubar. Tinggal kami berdua, tertawa kecil karena lupa waktu. Kami pulang berjalan kaki. Di jalan, kami menemukan belimbing wuluh yang asamnya luar biasa. Kenakalan kecil kami meronta—kami “mencuri” dua buah ...