Postingan

Part 17: “Dari Disebut ‘Gila’ Menjadi ‘Istimewa’: Cerita Saya di Hari Bipolar Sedunia”

Gambar
  Tanggal 30 Maret selalu punya makna yang berbeda bagi saya. Hari ini adalah Hari Bipolar Sedunia (World Bipolar Day)  dan untuk pertama kalinya, saya benar-benar merasakannya bukan sekadar peringatan, tapi sebagai pelukan. Sebagai penyandang disabilitas mental dengan Gangguan Bipolar , perjalanan saya tidak selalu mudah. Ada hari-hari ketika saya merasa sangat kuat, penuh energi, bahkan seperti bisa melakukan apa saja. Tapi di hari lain, semuanya terasa runtuh, lelah yang tidak terlihat, sedih yang sulit dijelaskan, dan pikiran yang terasa begitu sempit. Saya pernah berada di fase manik, bahkan dengan gejala psikotik. Di saat itu, dunia terasa begitu cepat, pikiran melompat-lompat, dan realitas terasa kabur. Lalu di waktu lain, saya jatuh ke titik yang sangat rendah, di mana bangun dari tempat tidur saja terasa seperti perjuangan besar. Namun hari ini… berbeda. Hari ini, saya merasa tidak sendiri. Mengapa 30 Maret? Tanggal ini dipilih untuk memperingati hari lahi...

Part 16: “Dua Hari, Dua Kontrol, Dua Cerita”

Gambar
  Selasa, 24 Februari 2026 , saya kontrol ke RS Welas Asih di poli mata. Alhamdulillah, hasilnya baik. Minus dan silinder saya tidak bertambah, sehingga saya tidak perlu mengganti kacamata. Rasanya lega sekali. Meski begitu, dokter tetap menyarankan kontrol rutin enam bulan lagi, tepatnya pada Agustus 2026. Menjaga tentu lebih baik daripada mengobati. Poli mata Beberapa hari kemudian, tepatnya Selasa, 3 Maret 2026 , saya kembali kontrol, kali ini ke poli bedah mulut. Setelah melihat hasil rontgen, dokter memutuskan gigi bungsu saya langsung ditindak hari itu juga. Awalnya saya sempat khawatir harus menjalani operasi dan rawat inap, tetapi ternyata cukup dicabut saja. Alhamdulillah. Prosesnya cukup lama dan, jujur saja, agak menyeramkan. Gigi saya ternyata sangat kuat. Belum lagi suara bor yang membuat suasana semakin menegangkan. Saya memilih untuk tetap tenang, memejamkan mata, dan menarik napas perlahan sampai akhirnya gigi bungsu kiri saya berhasil diangkat. Poli Bedah Mulut...

Part (15): Episode Depresi pada Bipolar

Gambar
Minggu, 8 Februari 2026. Hari ketika dadaku terasa sempit, air mata jatuh tanpa izin, dan masa lalu kembali mengetuk—masa awal kambuh yang kukira telah jauh tertinggal setelah lebih dari sepuluh tahun bertahan dengan doa dan keyakinan. Di hari itu, keyakinan terasa rapuh. Bukan karena aku lemah, melainkan karena otakku sedang lelah. Dalam gangguan bipolar, ada hari-hari ketika sistem emosi seperti kehilangan remnya. Secara medis, ini terjadi saat zat kimia otak yang mengatur suasana hati tidak berada dalam keseimbangan dan stres besar menekan dari segala arah. Tekanan finansial yang berat—angka yang terasa mustahil—menjadi pemicu kuat yang membuat pikiran berlari ke tempat paling gelap. Bukan karena aku ingin mengakhiri hidup, tetapi karena aku ingin berhenti dari rasa sakit yang terasa tak tertahankan. Secara ilmiah, kondisi ini berkaitan dengan beberapa mekanisme utama di otak. Ketidakseimbangan neurotransmiter seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin memengaruhi kemampuan otak...

Part (14): Jumat Berkah di Tengah Manik dan Psikotik

Gambar
  Jumat, 6 Februari 2026 menjadi hari yang ingin saya simpan baik-baik dalam ingatan. Hari itu terasa seperti berkah kecil yang jatuh perlahan, tidak gaduh, tapi cukup untuk membuat saya bernapas sedikit lebih lega. Anak perempuan saya dinyatakan sembuh dari amandel . Tidak perlu kontrol ke dokter lagi. Mendengar kalimat sederhana itu, hati saya seperti diringankan. Sebagai orang tua, kesehatan anak adalah doa yang paling sering kita ucapkan, bahkan saat kita sendiri sedang tidak baik-baik saja. Di hari yang sama, kondisi saya juga menunjukkan perubahan. Dosis obat saya diturunkan menjadi setengah dari sebelumnya. untuk 30 hari Saya tahu, ini bukan berarti sembuh. Saya juga belum remisi. Saya masih berada dalam fase bipolar manik dengan gejala psikotik . Tapi dibandingkan bulan lalu—saat depresi menelan hampir seluruh tenaga dan harapan—hari ini saya masih bisa berdiri. Apa Itu Bipolar Manik dengan Gejala Psikotik? Bipolar bukan sekadar perubahan suasana hati biasa. P...

Part (13): Di Tengah Vertigo dan Luruhnya Harapan, Aku Belajar Bersyukur

Gambar
28 Januari 2026 menjadi salah satu hari yang kembali menguji fisik dan mentalku. Hari ini aku kontrol ke RSUD Welas Asih, ke poli saraf. Vertigo yang kualami sudah berada pada tahap yang benar-benar melemahkan. Mual hebat, muntah, tubuh tak lagi bisa diajak kompromi. Masyaallah… rasanya bukan sekadar pusing, tapi dunia seperti berputar tanpa jeda. Syukurnya, vertigo ini tidak disertai dengungan di telinga. Namun tetap saja, penglihatanku melemah total. Semua terasa kabur dan menakutkan. Aku sempat teringat betapa banyak informasi di internet tentang vertigo—jujur saja, membacanya kadang membuat dada berdegup lebih kencang. Banyak kemungkinan, banyak kekhawatiran. Dan mungkin, kondisi inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa pada hari Senin sebelumnya aku sampai pingsan. Yang membuat hati sedikit perih adalah ketika pihak Kemendiknas menyarankan agar penangananku dilakukan di puskesmas. Padahal, setelah berkonsultasi dengan dokter di Welas Asih, dr. Cik Elber, jelas disampaikan...

Part (12): NRG Terbit: Perjalanan Menuju Gelar Gr.

Gambar
  Hari ini saya membuka Facebook dan melihat pengumuman yang sudah lama ditunggu: NRG sudah terbit! Artinya, apa yang ditunggu guru-guru PPG sudah ada. Alhamdulillah, rasa syukur membuncah di dada saya. Perjalanan panjang ini akhirnya membuahkan hasil. Saya ingat betul di awal proses, saya hampir menyerah. Bipolar dan gangguan saraf saya kambuh—kondisi mental yang kadang membuat saya kehilangan mimpi, fisik yang melemah, dan ingatan yang sering retak. Ada hari-hari ketika saya bertanya-tanya apakah saya sanggup melanjutkan. Tapi Tuhan tidak pernah membiarkan saya sendiri. Salah satu malaikat yang Tuhan kirimkan adalah  Bu Kartini , seorang guru di SMA dengan wajah yang anggun dan hati yang keibuan. Namanya benar-benar sesuai dengan karakternya. Bu Kartini meyakinkan saya bahwa saya pasti bisa. "Kalau ada yang belum dipahami, tanya saja sama saya. Saya kan sudah duluan PPG," katanya dengan senyum hangat. Kata-kata sederhana itu menjadi penguat yang luar biasa bagi saya. ...

Part (11): Menunggu di Rumdin: Dari Kesabaran, Pingsan, hingga Kebijaksanaan

Gambar
Senin, 26 Januari 2026 Hari ini seharusnya menjadi hari penting bagi saya. Saya memiliki janji dengan Bapak Bupati Kabupaten Bandung, Drs. H. M. Dadang Supriatana, S.IP., M.Si. , pukul 13.00 WIB di Rumah Dinas (Rumdin). Alhamdulillah, sekitar pukul 12.30 WIB saya sudah tiba di Rumdin dan menunggu di area Satpol PP. Awalnya saya mendapat informasi bahwa akan ada kegiatan rapat koordinasi (RAKOR) , sehingga saya diminta menunggu. Belakangan saya mengetahui bahwa informasi mengenai RAKOR tepat pukul 13.00 WIB tersebut tidak sepenuhnya tepat , namun saat itu saya memilih tetap bersabar dan menunggu dengan tenang. Sekitar pukul 15.00 WIB , saya bertemu seseorang yang tanpa saya duga justru memicu emosi. Rasa kesal itu datang mendadak dan menusuk—nyesek di ulu hati. Padahal selama kurang lebih empat tahun terakhir , saya sedang berjuang mengurus perubahan nama yayasan TK yang saya dirikan. Proses panjang yang melelahkan, penuh dinamika, dan sering kali menguras tenaga serta perasaan. ...