Part (1): Belajar Menerima Diri, Pelan-Pelan

Tidak semua orang jatuh lalu merasakan sakit.

Tidak semua luka terasa perih.

Dan tidak semua perjalanan hidup berjalan lurus seperti yang direncanakan.

Tulisan ini bukan tentang mencari simpati. Ini adalah catatan penerimaan—tentang tubuh, tentang takdir, dan tentang belajar berdamai dengan diri sendiri.

Nama saya Nelly. Usia saya 37 tahun. Saya adalah seorang ibu dari tiga orang anak—satu putri dan dua putra—serta istri dari seorang wartawan. Tulisan ini saya buat dengan seizin suami. Ia pernah berkata kepada saya, “Kalau kamu ingin menulis pengalaman pribadimu, tulislah. Biarkan dunia tahu. Kita tidak perlu malu, terima saja apa adanya.”

Sejak duduk di bangku SMA, banyak orang mengenal saya dengan panggilan Teh Nelly Korabe. Nama itu melekat hingga sekarang, menjadi bagian dari perjalanan hidup dan identitas saya. Lewat tulisan ini, saya ingin berbagi kisah sebagai diri saya seutuhnya—dengan segala pengalaman, kebingungan, dan proses belajar menerima yang menyertainya.


Semua bermula pada tahun 2010. Saat itu saya tinggal di kosan. Suatu sore, saya memakan jamur yang saya beli pada pagi harinya. Tak lama setelah itu, perut saya terasa sangat sakit. Saya mengalami diare dan muntah hebat hingga akhirnya dibawa ke rumah sakit. Setelah kondisi saya membaik, dokter memberikan rujukan ke ahli saraf karena hasil pemeriksaan darah menunjukkan adanya gejala lain yang tidak biasa.

Saya kemudian diantar kakak saya ke Rumah Sakit Hasan Sadikin. Di sanalah saya mulai menjalani terapi jalan. Setiap kali berjalan, saya sering terjatuh. Saraf motorik saya bermasalah. Ketika saya berniat menggerakkan kaki kanan terlebih dahulu, justru kaki kiri yang bergerak. Tubuh saya kehilangan keseimbangan, dan saya jatuh—lagi dan lagi.

Kondisi ini sering disalahpahami. Beberapa orang mengira saya sengaja mencari perhatian. Saya pernah terjatuh di depan gedung rektorat. Dari peristiwa-peristiwa itulah saya justru mulai mengenal banyak orang di lingkungan rektorat, bahkan hingga mengenal Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung saat itu, Prof. Dr. H. Nanat Fatah Natsir, M.S. Sebuah hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya bahkan mengundang beliau menjadi saksi pernikahan kakak saya yang kedua.

Dalam beberapa sesi terapi, saya juga sempat dirujuk ke poli jiwa. Saat itu aku—saya—belum benar-benar memahami alasannya. Yang saya tahu, tubuh saya terasa asing bagi diri saya sendiri. Setiap kali terjatuh, saya tidak merasakan sakit, bahkan ketika lutut dan tangan saya terluka hingga berdarah.

Saat dokter bertanya bagaimana perasaan saya, jawaban saya datar. Bukan karena saya tidak peduli, melainkan karena saya sendiri bingung harus menjelaskan apa yang saya rasakan. Tidak ada nyeri, tidak ada kepanikan. Hanya lelah dan pasrah. Seolah tubuh saya berjalan sendiri, sementara batin saya tertinggal di belakang.

Dari situlah dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan. Bukan untuk memberi label, tetapi untuk memahami diri saya secara lebih utuh—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara psikologis. Saya belajar bahwa terkadang Allah menyampaikan sesuatu bukan lewat rasa sakit, melainkan lewat kebingungan. Dan di titik itu, tugas saya bukan melawan, melainkan menerima dan terus melangkah, meski pelan.

Saya menjalani terapi beberapa kali, namun proses penyembuhan saya tidak berjalan sampai tuntas. Pada masa itu, biaya terapi terasa sangat berat bagi kami, sehingga harus terhenti di tengah jalan. Meski begitu, hidup tetap berjalan. Saya tetap menjadi istri, tetap menjadi ibu, dan tetap belajar berdamai dengan kondisi yang saya miliki.

Hari ini, saya menulis bukan karena semuanya sudah sembuh. Saya menulis karena saya ingin jujur. Bahwa menerima diri sendiri adalah perjalanan panjang. Bahwa jatuh tidak selalu berarti kalah. Dan bahwa setiap orang punya cara berjalan yang berbeda.

Inilah kisah saya.
Pelan, tidak sempurna, tapi nyata.


Bersambung…







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Part (8): Rumah yang Belum Selesai dan Jiwa yang Terluka

Part (5): India, Bipolar, dan Doa Pelepasan**