Part (3): Ketika Tubuh menyerah, Jiwa Mulai Bertanya

 


**Part 1

Pertemuan yang Mengubah Arah, dan Awal Retaknya Diri**

Tidak semua perubahan hidup datang dengan suara keras.
Sebagian hadir pelan—di sebuah halte bus, dalam percakapan singkat, atau lewat orang asing yang kelak menjadi penanda takdir.

Perjalananku dimulai di halte bus Primajasa. Aku hendak menuju Tangerang untuk menemui kakak keduaku. Di Cileunyi, aku duduk di belakang seorang bapak-bapak. Dari raut wajah dan caranya bertutur, aku tahu ia bukan orang biasa. Seorang kiai, pikirku.

Kami berbincang sepanjang perjalanan. Tentang hidup, keluarga, dan jalan yang membawa seseorang sampai pada hari itu. Ia memperkenalkan diri sebagai Pak Quraisy Syadily, saudara Pak Masduki Baidlowi, pengurus PBNU. Ia baru saja menjenguk anaknya yang kuliah di UNPAD Jatinangor.

Aku tidak sadar, percakapan itu adalah pintu.

Beliau menawarkan aku pekerjaan di MMD Initiative. Tawaran itu datang begitu saja, tanpa rencana, tanpa strategi hidup yang matang dariku. Beberapa hari kemudian, aku datang bersama kakak pertamaku. Gaji Rp2.500.000 sebagai pemula terasa bukan sekadar angka—ia adalah pengakuan bahwa aku mampu memulai.

Itu pekerjaan pertamaku.
Dan aku sangat bahagia.

Aku pindah ritme hidup ke Jakarta. Tinggal di rumah sepupu di Depok. Setiap hari berangkat dari Stasiun UI turun di Stasiun Matraman. Hidupku terasa normal. Dan bagi seseorang yang lama bertahan dalam ketidakpastian, normal adalah bentuk nikmat yang sering tak disadari.

Namun tubuhku mulai memberi tanda.

Suatu sore, di dalam kereta yang penuh sesak—tubuh-tubuh berhimpitan, napas terasa sempit—aku pingsan. Dunia gelap, lalu hening. Aku terbangun karena orang-orang baik yang bahkan tak kukenal, mengantarkanku pulang.

Sejak hari itu, ada sesuatu yang berubah.
Bukan hanya pada tubuhku, tapi pada jiwaku.

Sakit ini bukan sekadar fisik. Ia mulai menyentuh ruang-ruang sunyi dalam diriku. Aku mulai sering lelah tanpa sebab. Pikiran terasa berat. Dan aku belum tahu, bahwa yang akan retak bukan hanya kesehatan—melainkan ingatan dan rasa percaya pada diri sendiri.

Di masa itu, banyak yang hadir menjenguk. Teman-teman MMD Initiative. Juga Lidya Natalia Sartono, Ketua PMKRI. Meski keyakinan kami berbeda, kemanusiaannya hadir tanpa syarat. Dari Jakarta, aku belajar: empati tidak mengenal sekat iman.

Lidya - Nelly - Teman Lidya

Aku belum mengerti saat itu.Bahwa sakit ini adalah awal perjalanan panjang menuju pemulihan mental dan spiritual.


Bersambung...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Part (1): Belajar Menerima Diri, Pelan-Pelan

Part (8): Rumah yang Belum Selesai dan Jiwa yang Terluka

Part (5): India, Bipolar, dan Doa Pelepasan**