Part (2): Kesedihan yang Datang Bertubi-tubi, Tanpa Jeda

 

Setelah dirujuk ke poli jiwa, sejujurnya aku mungkin hanya datang satu kali. Aku bahkan tidak benar-benar memperhatikan obat-obatan yang aku minum. Bukan karena aku menolak pengobatan, melainkan karena saat itu aku sedang berada dalam kesedihan yang teramat dalam.

Kisah cintaku hancur.
Ya, benar—cinta pertamaku.

Namanya Sofyan. Ia adalah sepupuku. Cinta kami tidak direstui oleh dunia, dan pada masa itu rasanya bahkan Tuhan pun tidak merestui aku. Aku ditipu bertubi-tubi. Aku mengetahui rencana pernikahannya hanya dua minggu sebelum hari itu tiba. Yang lebih menyakitkan, ia menikah dengan teman sekelasku saat di MTs Misbahul Falah. Padahal ia pernah berjanji tidak akan menikah dengan siapa pun yang aku kenal—meski aku tahu, janji itu telah lama terhapus karena permintaan kakak pertamaku.

Tahun 2011, ia benar-benar pergi. Menikah.
Ia meninggalkanku hanya dengan satu janji: akan membangunkan sebuah masjid untukku. Namun janji itu tak pernah selesai. Yang tertinggal hanyalah beberapa bata.

Hidupku setelah itu terasa sepi dan hancur.

Bukan hanya karena kehilangan cinta pertama, tetapi juga karena perlahan aku kehilangan sahabat-sahabatku. Miftakh dan Ali—dua orang yang selalu menemaniku ke mana pun aku pergi. Mereka bahkan lebih dekat daripada cinta pertamaku. Mereka adalah segalanya.

Miftakh lulus kuliah lebih dulu dan mulai memiliki dunianya sendiri. Saat itu aku masih bersama Ali. Namun ternyata, kesunyian dan duka karena berjarak dengan Miftakh terasa jauh lebih menyakitkan dibanding ditinggal menikah oleh cinta pertamaku. Banyak hal yang belum sempat kusampaikan padanya. Tapi pada akhirnya, kami memang memiliki garis hidup masing-masing.

Sebelum semuanya benar-benar berjarak, Gumilar, Hamidah, Rere, Miftakh, dan Ali sempat menjengukku ke rumah di kampungku. Ada satu momen yang hingga kini masih kuingat. Dengan caranya yang khas, Gumilar berkata—setengah bercanda, setengah serius—bahwa bukan Miftakh yang akan membuatku sukses, melainkan dirinya sendiri: gaya hidupnya dan perjuangan hidupnya.

Aku hanya mendengarkan. Seperti biasa, perasaanku datar. Sama seperti saat aku terjatuh berulang kali—berdarah-darah, tanpa rasa sakit dan tanpa tangis.

Namun untuk pertama kalinya, perasaanku benar-benar terasa normal ketika Miftakh mulai jauh dari hidupku. Ada luka. Ada sedih. Ada rasa yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Saat itu aku sadar, mungkin selama ini Ali benar—bahwa Miftakh memiliki tempat yang sangat spesial di hatiku. Dan mungkin juga, ucapan Gumilar bukan sekadar candaan.

Hingga detik ini, keyakinanku tidak runtuh: aku adalah orang yang beruntung pernah berjalan bersama Miftakh dan Ali. Dua makhluk Tuhan yang paling tulus dan paling sabar yang pernah Tuhan hadirkan dalam hidupku.

Pada akhirnya, aku lulus dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada bulan Desember 2011. Ali menyusul pada Februari 2012, dan kami diwisuda pada waktu yang sama—seolah semesta memberi satu pertemuan terakhir sebelum hidup membawa kami ke arah yang berbeda. Sejak hari itu, kami berjalan di jalur takdir masing-masing. Aku pun melangkah ke Jakarta, memulai hidup baru dengan bekerja sebagai staf Mahfud MD di MMD Initiative, membawa serta luka, harapan, dan keyakinan bahwa hidup, bagaimanapun jalannya, selalu menyediakan ruang untuk tumbuh.

Bersama Prof. Dr. H. Mohammad Mahfud MD

Aku meninggalkan Bandung dengan tubuh yang pernah jatuh berkali-kali dan hati yang berkeping, tetapi dengan satu keyakinan baru: hidup boleh melukaiku, namun ia tidak pernah benar-benar selesai denganku.

Jakarta tidak menyambutku dengan janji kesembuhan, tetapi dengan tuntutan untuk bertahan. Di kota inilah aku belajar hidup sebagai perempuan dewasa—bekerja, menata ulang mimpi, dan pelan-pelan memahami bahwa masa lalu tidak selalu harus disembuhkan; sebagian hanya perlu diterima agar aku bisa melangkah ke depan. 

 

Bersambung…



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Part (1): Belajar Menerima Diri, Pelan-Pelan

Part (8): Rumah yang Belum Selesai dan Jiwa yang Terluka

Part (5): India, Bipolar, dan Doa Pelepasan**